Rabu, 04 Februari 2015

laporan tentang kelapa parut kering



HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Pas
Bahan
Waktu Pengeringan
Kadar air
awal (%)
Kadar air
akhir (%)
Uji Organoleptik
Warna
Rata-rata
Aroma
Rata
% BB
%BK
% BB
%BK
a b c d e
a b c d e
-rata
1
Kelapa
20
48,63
86,20
9,92
11,01
5 5 4 5 5
4,8
4 4 4 3 4
3,8
2
Kelapa
22
36,78
26,86
10,3
9,33
4 4 4 4 4
4
4 5 4 4 4
4,2
3
Kelapa
24
52,08
108,6
7,12
7,67
4 4 4 4 4
4
4 4 4 4 4
4
4
Kelapa
26
30,6
44,09
6,8
7,2
4 4 4 4 4
4
4 4 4 4 4
4
5
Kelapa
28
52,39
110,04
5,97
6,35
4 4 4 4 4
4
3 4 5 4 4
4

Keterangan :
Warna dan aroma
1 = Sangat tidak suka
2 = Tidak suka
3 = Agak suka
4 = Suka
5 = Sangat suka

Perhitungan
1. Kadar air awal (%)
Berat cawan = 3,03 gram
Berat bahan + cawan  = 8,05 gram
Berat akhir = 5,42 gram
Berat bahan  = 5,02 gram
% Kadar air (BB) = Berat awal –Berat akhir x 100%
                                            Berat awal
= 5,02 – (5,42 – 3,03) x 100%
8
 
              5,02
9
 
= 52,3904%
% Kadar air (BK) = Berat awal – Berat akhir x 100%
                                                Berat akhir
                                               
= 5,02 – (5,42 – 3,03) x 100%
                                        (5,42 – 3,03)
= 110,041%
2. Kadar air akhir (%)
Berat cawan = 2,98 gram
Berat bahan + cawan  = 8,00 gram
Berat akhir = 7,70 gram
Berat bahan  = 5,02 gram
% Kadar air (BB) = Berat awal –Berat akhir x 100%
                                          Berat awal
= 5,02 – (7,70 – 2,98) x 100%
                                                5,02
= 5,97%
% Kadar air (BK) = Berat awal – Berat akhir x 100%
                                                Berat akhir
                                               
= 5,02 – (7,70 – 2,98) x 100%
                                        (7,70 – 2,98)
= 6,35%


Pembahasan
            Kelapa parut kering (dessicated coconut) merupakan salah pemanfaatan buah kelapa, dimana buah kelapa dipotong-potong atau diparut kecil-kecil dan dikeringkan segera dengan warna tetap putih. Sebenarnya produk kelapa parut kering sudah lama digunakan oleh konsumen di Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki sumber daya tanaman kelapa yang melimpah, maka produk kelapa parut kering akan menjadi peluang bagi pengembangan agroindustri kelapa.
            Warna kelapa parut kering yang diinginkan adalah putih alami dengan aroma atau rasa yang tidak berubah sehingga nantinya dalam pemanfaatannya dapat dihasilkan produk dengan kualitas yang baik. Kelapa parut kering sendiri bisa dimanfaatkan untuk pembuatan roti, biskuit, manisan ataupun dapat diambil santannya. Untuk itulah perlu kajian lebih lanjut tentang tahapan-tahapan proses pembuatan kelapa parut kering agar dihasilkan kelapa parut kering dengan kualitas yang baik dan memiliki daya simpan tinggi.
            Kerusakan yang sering terjadi pada kelapa parut kering adalah timbulnya bau tengik, warna coklat yang kurang menarik dan kontaminasi mikroba. Adanya protein dan gula pereduksi dalam suatu bahan akan menyebabkan terjadinya reaksi pencoklatan (reaksi maillard). Reaksi pencoklatan ini dapat menimbulkan perubahan flavor, warna dan nilai gizi produk. Usaha untuk mencegah reaksi pencoklatan adalah dengan penambahan natrium bisulfit atau dengan blanching dengan air yang mendidih, disamping itu juga menghambat pertumbuhan mikroba serta dengan penambahan antioksidan.
            Kualitas yang baik dan memiliki daya simpan tinggi, maka kelapa parut kering pada umumnya dibuat melalui serangkaian tahapan proses, dimana setiap tahapannya akan memberikan konstribusi terhadap mutu produk akhir dari kelapa parut kering yang dihasilkan. Permasalahan yang sering timbul dalam pembuatan kelapa parut kering adalah timbulnya warna dan bau yang menyimpang serta daya simpannya relatif masih rendah, sedangkan warna kelapa parut kering yang diinginkan adalah putih alami dan tidak adanya bau tengik pada kelapa parut kering selama waktu tertentu sampai kelapa parut kering tersebut siap digunakan. Untuk itu perlu ditelaah secara cermat pada setiap tahapan proses pembuatan kelapa parut kering, yakni mulai dari preparasi (pra proses), proses sampai pasca proses, sehingga didapat teknologi proses pembuatan kelapa parut kering yang mempunyai sifat-sifat yang lebih baik (bermutu) dan mempunyai daya simpan yang lebih tinggi.
11
 
            Adapun tahapan pengolahan kelapa parut kering (dessicated coconut) adalah sebagai berikut :
a. Pengupasan sabut dan tempurung
Sabut dan tempurung kelapa dikupas, diusahakan agar daging buah tidak pecah. Untuk memudahkan pengupasan, buah kelapa dapat dipanaskan terlebih dahulu dengan menggunakan uap panas selama 30-40 menit.
b. Pengupasan testa dan pencucian
Kulit daging buah (testa) dikupas dengan pisau khusus. Pengupasan dilakukan sampai bagian luar daging buah menjadi putih bersih tanpa menyisakan kulit daging. Kulit daging buah pengupasan tidak dibuang, tapi diolah untuk diambil minyaknya. Daging buah kemudian dipotong-potong dan dicuci dengan air bersih, setelah itu daging buah ditiriskan.

12
 
c. Pasteurisasi dan stabilisasi
Pasteurisasi atau blanching, dilakukan setelah proses pencucian daging buah. Pada proses blanching potongan daging buah dicelupkan ke dalam air panas pada suhu 80-85°C selama 5-8 menit. Proses ini akan membunuh sebagian mikroba, mematikan enzim penyebab pencoklatan, dan melunakan jaringan daging buah. Di Filipina, sebelum dilakukan pengecilan ukuran (pemarutan), daging buah distabilisasi denagn larutan natrium metabisulfit pada konsentrasi    50 mg/L, sedangkan proses pasteurisasi dilakukan setelah proses pemarutan. Stabilisasi membantu mengurangi perubahan warna selama proses pengeringan dan dapat memperpanjang umur simpan produk.
d. Pemarutan
Daging buah diparut dengan menggunakan grater machine untuk mendapatkan parutan seperti pita halus, atau disintegrator untuk mendapatkan parutan berupa butiran.
e. Pengeringan
Parutan kelapa dikeringkan untuk menurunkan kadar air dari 55% menjadi 2-3%. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengering atau dengan penjemuran. Pengeringan dilakukan pada suhu 75-105°C selama 20-45 menit, tergantung pada tipe alat pengering yang digunakan dan ukuran parutan kelapa. Penjemuran hanya dianjurkan jika kondisi cuaca benar-benar cerah. Selama proses penjemuran, bahan harus benar-benar dilindungi dari lalat, semut, debu dan kotoran lainnya.


13
 
f. Sortasi dan grading
Sortasi dilakukan untuk memisahkan produk berdasarkan ukuran partikel dengan menggunakan mesin grading (sifters). Sifters terdiri atas beberapa seri ayakan mulai dari ayakan kasar pada bagian atas, medium pada bagian tengah, dan halus pada bagian bawah.
g. Pengemasan
Pengemasan kelapa parut kering harus kedap udara dan uap air. Kemasan yang dapat digunakan antara lain kantong plastic polietilen, kantong aluminium berlapis plastik, kotak plastik semi kaku, botol kaca, dan kaleng. Kedalam kemasan sebaiknya dimasukkan gas nitrogen atau karbondioksida agar bahan yang dikemas memiiki daya simpan yang lebih panjang.
            Karakteristik kelapa parut kering adalah :
1. Berwarna putih
2. Memiliki daya rehidrasi yang tinggi
3. Dapat membentuk emulsi
4. Bebas dari mikroba
            Adapun mutu kelapa parut kering terdiri dari beberapa parameter sebagai berikut :
1. Ukuran ranjangan
2. Warna, rasa, dan aroma
3. Kadar  air,
4. Kadar minyak
5.  Kadar asam lemak bebas
14
 
6. Pencemaran oleh bakteri misalnya Salmonella dan bagian-bagian testa. Saat ini Standar Internasional kelapa parut kering belum ada sehingga negara-negara pengimpor telah mengeluarkan spesifikasi standar sendiri. Standar mutu kelapa parut kering yang berlaku di indonesia.
             Untuk dapat menentukan mutu dari kelapa parut kering adalah dengan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas dari kelapa parut kering yang dihasilkan, seperti :
- Kadar air     
               Kadar air pada kelapa tua sebesar 52,39%BB dan 110,04%BK. Hal ini menunjukkan kandungan air pada kelapa cukup tinggi sehingga sangat rentan untuk terjadinya kerusakkan. Sementara kelapa yang sudah diolah menjadi kelapa parut kering yang telah dikeringkan selama 28 jam memiliki kandungan air sebesar 5,97%BB dan 6,35%BK yang menunjukkan penurunan kadar air. Hal ini sesuai dengan literatur Witono, dkk. (2012),  yang menyatakan bahwa perlakuan wakru yang berbeda bertujuan untuk mencari suhu dan lama pengeringan yang tepat sehingga diperoleh kelapa parut kering dengan kualitas yang baik, dimana semakin lama pengeringan maka kandungan air akan semakin menurun disertai dengan rentan mengalami pencoklatan.
- Warna
            Berdasarkan hasil uji organoleptik dapat diketahui bahwa semakin lama pengeringan maka warnanya semakin tidak disukai. Hal ini sesuai dengan  Suhardikono (1995), yang menyatakan bahwa warna kelapa parut kering yang diinginkan adalah putih alami dengan aroma atau rasa yang tidak berubah sehingga nantinya dalam pemanfaatannya dapat dihasilkan produk dengan kualitas yang baik parut kering sendiri bisa dimanfaatkan untuk pembuatan roti, biskuit, manisan ataupun dapat diambil santannya. Untuk itulah perlu kajian lebih lanjut tentang tahapan-tahapan proses pembuatan kelapa parut kering agar dihasilkan kelapa parut kering dengan kualitas yang baik dan memiliki daya simpan tinggi yang sangat ditentukan oleh pengaruh suhu dan lamanya pengeringan.
15
 
- Aroma
            Aroma yang dihasilkan dari pengolahan kelapa menjadi kelapa parut kering  dengan perbedaan lama pengeringan cenderung tidak mengalami perubahan dan dapat diterima oleh panelis, hal ini dapat terlihat dari hasil uji organoleptik kelapa parut kerning dengan kondisi pengeringan selama 28 jam memiliki respon panelis 4 = suka. Hal ini disebabkan kelapa tidak mengandung senyawa-senyawa volatil sehingga dengan meskipun kondisi pengeringan lama namun aroma dari kelapa parut kering yang dihasilkan tidak mengalami perubahan namun aroma akan semakin cepat berubah ketika kelapa parut kering mendapatkan perilaku penyimpanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Witono, dkk., (2012), bahwa permasalahan yang sering timbul dalam pembuatan kelapa parut kering adalah timbulnya bau yang menyimpang serta daya simpannya relatif masih rendah yang disebabkan kondisi pengeringan dengan suhu tinggi dan pengeringan yang terlalu lama.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar